picture courtesy of ANZ

Dalam bulan Maret lalu, saya mengikuti diskusi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang membahas Society 5.0. Saya tertarik karena ingin mengetahui : Apa yang dimaksud Society 5.0 ini ? Jepang, dalam pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia 2019 di Davos, Swiss, pada 23 Januari lalu, melalui Perdana Menterinya, Shinzo Abe, menjelaskan visi baru Jepang yaitu “Society 5.0”.

Ini berbeda dengan Proyek Industry 4.0 yang digagas Pemerintah Jerman (tahun 2010), Industrial Internet milik Pemerintah Amerika Serikat (2012), atau Proyek Singapore Smart Nation (tahun 2014).

Society 5.0, menurut Kantor Kabinet Jepang, didefinisikan sebagai sebuah masyarakat yang berpusat pada manusia yang menyeimbangkan kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial melalui sistem yang sangat mengintegrasikan ruang maya dan ruang fisik.

Singkatnya, melalui Society 5.0, kecerdasan buatan (artificial intelligence) akan mentransformasi big data pada segala sendi kehidupan serta the internet of things akan menjadi suatu kearifan baru, yang didekasikan untuk meningkatkan kemampuan manusia membuka peluang-peluang bagi kemanusian. Harapannya, transformasi ini akan membantu manusia untuk menjalani kehidupan bermakna.

Dari beberapa sumber, diijelaskan : di Society 5.0, itu bukan lagi modal, tetapi data yang menghubungkan dan menggerakkan segalanya, membantu mengisi kesenjangan antara yang kaya dan yang kurang beruntung. Layanan kedokteran dan pendidikan, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, akan mencapai desa-desa kecil di wilayah Sub-Sahara, Afrika.

Nah, rencananya, Society 5.0 diusulkan dalam Rencana Dasar Sains dan Teknologi ke-5 sebagai masyarakat masa depan yang harus dicita-citakan oleh Jepang. Kalau kita memperhatikan proses evolusi perkembangan peradaban, maka Ini mengikuti tahapan-tahapan dari perkembangan masyarakat yakni mulai dari masyarakat berburu (Society 1.0), masyarakat pertanian (Society 2.0), masyarakat industri (Society 3.0), dan masyarakat informasi (Society 4.0).

Dalam masyarakat informasi (Society 4.0), berbagi pengetahuan dan informasi lintas bagian tidak cukup, dan kerja sama itu sulit. Adapun Society 5.0 mencapai tingkat konvergensi yang tinggi antara ruang maya (ruang virtual) dan ruang fisik (ruang nyata).

Dalam Society 4.0, orang akan mengakses layanan cloud (basis data) di dunia maya melalui Internet. Di Society 5.0, sejumlah besar informasi dari sensor di ruang fisik terakumulasi di dunia maya.

Di dunia maya, data besar ini dianalisis dengan kecerdasan buatan (Artificial Inteligence), dan hasil analisis diumpankan kembali ke manusia dalam ruang fisik dalam berbagai bentuk.

Menurut Peneliti LIPI, Irin Oktafiani, Jepang mewujudkan Society 5.0 karena antara lain jumlah lansianya yang diprediksi pada 2045 mencapai sekitar 62 juta jiwa atau menjadi mayoritas dari penduduk Jepang itu sendiri. Negeri matahari terbit itu menghadapi masalah tingginya generasi tua yang mana pengeluaran untuk biaya pengobatan serta pelayanannya semakin meningkat.

Maka solusinya, antara lain: menggunakan data medical records untuk membantu mempercepat penanganan kesehatan, membuat sistem remot untuk pelayanan kesehatan, menggunakan kecerdasan buatan dan robot sebagai perawat, dan robot akan digunakan untuk membantu pemeliharaan jalan, terowongan, jembagan, dan infrastruktur lainnya. Itulah yang kira-kira dimaksud revolusi industri kelima yang kalau boleh dinamakan Society 5.0.

Tapi ada catatan dari Fadjar, Peneliti LIPI, yang pernah mengambil gelar doktor dan penelitian di Jepang. Itu adalah upaya Jepang yang memang tidak kaya dalam segi sumber daya alam. Ini semacam strategi mempromosikan brand nasional, karena kenyataannya tidaklah seindah itu. Sepertinya ingin enak dilihat, tapi realitanya belum terbangun sistemnya.

Menurut Fadjar, Proyek Society 5.0 yang digadang-gadang Perdana Menteri Jepang itu akan gagal seperti dulu Jepang pernah menggaungkan “Cool Japan”.

Pada 1990-an, Jepang yang sedang menikmati gelembung ekonomi mulai galau dengan hadirnya pesaing baru di Eropa dan Korea Selatan. Produk-produk otomotif dan elektronika Jepang mulai tersaingi. Pada sisi lain, Negara Matahari Terbit itu tidak kaya akan sumber daya alam. Akhirnya mereka mencanangkan proyek Cool Japan yang mendorong industri kreatif. Mereka meniru Inggris yang maju dalam sektor industri kreatif. Japan Foundation memasarkan kehebatan Cool Japan ke seluruh dunia.

Dalam perjalanannya, Cool Japan tidak berjalan sukses. Banyak konten yang dikerjakan pihak luar (outsourcing). Dukungan Pemerintah Jepang tidak maksimal. Editorial di harian Yomiuri Shimbun, salah satu koran terkemuka di Jepang, pada tahun 2010 menyatakan Pemerintah Jepang tidak berbuat cukup dalam memajukan kepentingan bisnis negara, membiarkan munculnya Korea Selatan sebagai kompetitor.

Editorial koran terbesar di Jepang tersebut juga menyoroti inefisiensi struktural dengan adanya Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri mempromosikan Cool Japan, sementara Kementerian Luar Negeri mengurusi pertukaran budaya, dan Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan mengurusi promosi makanan Jepang.

Mungkin pelajaran yang bisa kita petik, bagaimana kesiapan antisipasi Jepang dalam menghadapi tantangan masa depan, terlepas apakah berhasil atau tidak.

Iskandar Siregar
Ketua DPP LDII/Wakil Pemimpin Redaksi Majalah Nuansa Persada

error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest

Share This