UU Omnibus Law Diprediksi Dorong Kebangkitkan Ekonomi

Jakarta, KPCPEN – Undang Undang Omnibus Law diperlukan salah satunya sebagai pendorong membangkitkan perekonomian Indonesia akibat dampak penyebaran virus Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Mengingat, aturan ini akan menarik para investor menanamkan modal di dalam negeri.

Hal ini ditegaskan Wakil Ketua KADIN Bidang Perdagangan Benny Soetrisno dalam diskusi bertajuk “Bertahan dan Bangkit di Masa Pandemi” yang diselenggarakan secara daring dari Media Center Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) di Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Selasa (6/10/2020)

“Terobosan Omnibus Law sangat diperlukan sekali, agar Indonesia bisa bersaing dengan negera lain,” katanya.
Menurut dia, Omnibus Law yang disahkan pada Senin (5/10/2020) bisa menarik para pengusaha dalam maupun luar negeri berinvestasi di Indonesia. Karena, aturan ini memangkas banyak birokrasi yang berkaitan dengan perijinan usaha di Indonesia.

Disahkannya aturan tersebut, proses perijinan yang dilakukan oleh para investor ke instansi yang terkait dapat dilakukan lebih mudah. Diprediksi banyak pengusaha dalam maupun luar negeri yang akan menanamkan modal, meskipun masih mewabahnya Covid-19 di berbagai wilayah.

“Banyak peraturan yang membikin sulit para pengusaha, khususnya soal dengan perijinan,” katanya.

Pemerintah Indonesia mampu melakukan perbaikan dalam berbagai indikator menjalankan bisnis, berurusan dengan izin konstruksi, pendaftaran properti, pembayaran pajak, perdagangan antar pesanan, dan menyelesaikan kebangkrutan yang terjadi.

Dengan melakukan perbaikan secara masif dalam indokator di atas, maka Indonesia dapat mengalahkan negara lain seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam dalam narik perhatian investor.

Hasilnya, dapat mendongkrak peringkatan kemudahan berusaha di Indonesia di mata dunia menjadi lebih baik dari tiga negara tetangga. “Indonesia memerlukan perbaikan secara radikal dalam berbagai indikator tersebut,” tuturnya.
Ia berharap, perundangan ini dapat menolong perekonomian Indonesia dari keterperukan akibat Covid-19.
Sehingga, dalam waktu beberapa waktu kedepan perekonomian dalam negeri dapat segera kembali pulih menjadi seperti sedia kala sebelum terjadinya wabah global.

“Saya optimis dengan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah saat ini,” pungkasnya.

Turut tampil sebagai narasumber diskusi Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu. Kegiatan FMB9 juga bisa diikuti secara langsung di www.fmb9.go.id, FMB9ID_ (Twitter), FMB9.ID (Instagram), FMB9.ID (Facebook), dan FMB9ID_IKP (Youtube). (FMB9/TRI/VR/TR)

Meski Minus, Pertumbuhan Ekonomi di Kuartal III Membaik

Jakarta, FMB9-KPCPEN – Kementerian Keuangan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020, tumbuh negatif sekitar 1,7 hingga 0,6 persen. Pandemi virus Covid-19 atau Coronavirus Disease 2019 menjadi penyebab utamanya, yang bedampak diberbagai sendi perekonomian.

“Kasus Covid-19 terus bertambah, memberi resiko pada perekonomian,” ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu dalam diskusi melalui jaringan online bertajuk “Bertahan dan Bangkit di Masa Pandemi” yang diselenggarakan dari Media Center KPCPEN di Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Senin (5/10/2020).

Namun begitu, dengan berbagai upaya yang diambil pemerintah arahnya saat ini sudah semakin baik dibanding yang terjadi pada kuartal dua yang mencapai minus 5,3 persen. Pada kuartal tiga diproyeksikan akan menjadi lebih baik, meskipun pertumbuhannya masih tumbuh negatif yakni minus 2,9 hingga -1,0 persen.

“Pada akhir kuartal tahun ini akan menjadi lebih baik lagi berkisar antara -1,7 hingga 0,6 persen. Arah pertumbuhan perekonomian Indonesia sudah menjadi semakin baik,” katanya.

Pertumbuhan perekonomian Indonesia dikatakannya masih lebih baik daripada negara-negara lain yang mengalami kontraksi ekonomi lebih dalam hingga mencapai minus belasan persen. Kontraksi perekonomian yang dialami India bahkan mencapai angka minus 24 persen.

“Kita lebih baik dibandingkan dengan negara India yang mengalami kontraksi sangat dalam,” tuturnya.

Covid-19 telah menyebabkan perekonomian di banyak negara terkontraksi lebih dalam daripada peristiwa krisis finansial global yang terjadi pada tahun 2009. Kala itu, pertumbuhan global hanya mencapai minus 3,3 persen, sedangkan akibat dari pandemi pada tahun ini perekonomian global terkontraksi mencapai minus 8,0 persen.

“Ancaman resesi tidak hanya di Indonesia. Bank dunia memproyeksikan 92,9 persen negara di dunia akan mengalami resesi di tahun 2020,” imbuhnya.

Akibat dari perlambatan ekonomi ini, lanjut dia, membawa dampak buruk terhadap sektor ketenagaan kerja yang membuat sekitar tiga juta orang mengalami putus hubungan kerja (PHK). Dan menambahkan penduduk miskin menjadi lebih banyak ketika terjadi wabah global ini.

“Perlambatan ini membuat PHK sebanyak 3 juta tenaga kerja dan meningkatkan angka kemiskinan menjadi signifikan,” imbuhnya.

Turut tampil sebagai narasumber diskusi adalah Wakil Ketua KADIN Bidang Perdagangan Benny Soetrisno. Kegiatan FMB9 juga bisa diikuti secara langsung di www.fmb9.go.id, FMB9ID_ (Twitter), FMB9.ID (Instagram), FMB9.ID (Facebook), dan FMB9ID_IKP (Youtube). (FMB9/TRI/VR/TR)

Imunisasi Cegah Penyakit Berbahaya

Jakarta, FMB9 – Imunisasi secara rutin sejak usia dini mampu mencegah seseorang terjangkit berbagai penyakit berbahaya. Oleh karena itu, masyarakat harus dapat memperhatikan secara seksama waktu dan saat imunisasi, dan sebaiknya dilakukan secara berkala.

“Imunisasi melindungi diri dari penyakit berbahaya dan juga aman bagi manusia,” ujar Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan Vensya Sitohang dalam diskusi Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) bertajuk “Vaksin: Melindungi Diri, Melindungi Negeri” yang diselenggarakan di Media Center Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) di Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kamis (1/10/2020).

Menurut dia, vaksin yang diberikan pada setiap anak saat imunisasi merupakan hasil penelitian yang panjang oleh para ahli. Dari hasil tersebut, para ahli mampu membuat formulasi yang ampuh untuk mencegah seseorang terinfeksi virus berbahaya yang dapat mengancam jiwanya.

“Imunisasi ini oleh para ahli telah melalui serangkaian penelitian yang puluhan hingga belasan tahun untuk mendapatkan formula yang dapat mencegah penyakit berbahaya,” katanya.

Banyak virus berbahaya yang membuat kematian seseorang diantaranya Tuberkulosis (TBC), rubella, pneunomia, perkusis, dan akhir-akhi ini ada kanker mulut rahim yang sudah ada vaksinnya.

Pemerintah, lanjut dia, telah memiliki rencana jangka panjang yang detail terkait dengan upaya eradikasi atau pemberantasan penyakit berbahaya tersebut melalui kegiatan imunisasi. Bahkan, langkah itu pun sudah berbuah manis. Artinya, langkah ini eradikasi penyakit berbahaya melalui imuninsasi telah mendapat pengakuan dari negara lain.

Salah satu contoh, pada 2006 Indonesia telah berhasil melakukan eradikasi penyakit Polio. Pemerintah sudah banyak meredam kematian yang disebabkan dari penyakit ini melalui kegiatan imunisasi secara masif yang dilakukan dengan intensif melibatkan pemerintah daerah.

“Tentunya kita tahu untuk eradikasi memerlukan upaya terlebih dahulu mereduksi baru ke tahap eliminasi. Oleh karena itu, hingga saat ini pengembangan vaksin tidak pernah berhenti,” tuturnya.

Ia mengimbau, masyarakat melakukan imunisasi sejak dini, demi menghindarkan diri dari potensi penyakit berbahaya yang bisa muncul kapan saja. Jadi, ketika pemerintah melakukan upaya imunisasi, maka masyarakat harus dapat menjalankan dengan sepenuhnya.

“Pemerintah akan menyediakan mekanisme imunisasi dengan jalur distribusi yang dijaga dengan baik,” pungkasnya.
Turut tampil sebagai narasumber Diskusi Media FMB9 adalah Ketua Bidang Humas dan Kesejahteraan Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia Hartono Gunardi serta Communication for Development Specialist UNICEF Indonesia Rizky Ika Syafitri, dan.

Kegiatan FMB9 juga bisa diikuti secara langsung di www.fmb9.go.id, FMB9ID_ (Twitter), FMB9.ID (Instagram), FMB9.ID (Facebook), dan FMB9ID_IKP (Youtube). (FMB9/TRI/VR/TR)

Rilis 2

UNICEF Apresiasi Pemerintah Indonesia Terapkan Imunisasi

Jakarta, FMB9 – Organisasi internasional The United Nations Children’s Fund (UNICEF) Indonesia mengapresiasi upaya pemerintah Indonesia dalam melakukan kegiatan imunisasi kepada anak usia 5 sampai 10 tahun. Sehingga, para generasi penerus bangsa itu dapat terlindungi dari ancaman penyakit berbahaya yang mengancam jiwa.

“Pemerintah luar biasa komitmennya untuk menjaga hal ini, sekarang layanan imunisasi dasar buat anak balita dan usia sekolah dapat dilakukan melalui pos layanan imunisasi,” kata Communication for Development Specialist UNICEF Indonesia Rizky Ika Syafitri dalam diskusi Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) bertajuk “Vaksin: Melindungi Diri, Melindungi Negeri” yang diselenggarakan pada Media Center KPCPEN di Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Kamis (1/10/2020).

Menurut dia, pemerintah telah menunjukkan perhatiannya dalam melindungi masyarakat dari penyakit berbahaya, salah satunya dengan cara komitmen melakukan imunisasi bahkan secara gratis kepada masyarakat. Hal ini membuktikan, upaya optimal pemerintah dalam membuat masyarakat senantiasa aman dari gangguan penyakit-penyakit.

“Imunisasi diberikan secara gratis oleh pemerintah jadi masyarakat yang punya anak balita maupun usia sekolah bisa datang langsung ke pos pelayanan imunisasi,” tuturnya.

Sebagai lembaga yang memperhatikan masalah anak, Ia memandang langkah pemerintah Indonesia telah tepat. Melakukan serangkaian intervensi khususnya di bidang kesehatan melalui program imunisasi. Berkat dari hal itu, jutaan nyawa anak dari berbagai usia dapat diselamatkan dari ancaman penyakit berbahaya.

“Sudah terbukti menyelamatkan jutaan anak dari kematian, kesakitan, dan kecatatan. Ini merupakan hal yang luar biasa manfaatnya,” imbuhnya.

Imunisasi diakuinya telah terbukti bisa menambah kekebalan tubuh kebal terhadap berbagai virus dan bakteri. “Masyarakat harusnya betul-betul mengambil manfaat dari program yang disediakan pemerintah ini,” katanya.

Imunisasi juga merupakan langkah yang dapat melindungi orang lain dari ancaman penyakit berbahaya. Maksudnya, dengan seseorang melakukan imunisasi maka secara otomatis tidak akan menulari orang lain dari berbagai penyakit.

Contohnya, seseorang yang melakukan imunisasi dapat mencegah kaum rentan tertular penyakit berbahaya. Apabila, mayoritas masyarakat menjalankan hal tersebut, maka dapat menghasilkan ketahanan kelompok yang membuat setiap individu masyarakat mendapatkan kekebalan tubuh dalam menangkal penyakit berbahaya.

“Penyakit itu semakin besar cakupannya yang diimunisasi dari jumlah populasi itu maka akan terbentuk kekebalan kelompok (herd imunity),” pungkasnya

Turut tampil sebagai narasumber Diskusi Media FMB9 Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan Vensya Sitohang dan Ketua Bidang Humas dan Kesejahteraan Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia Hartono Gunardi. Kegiatan FMB9 juga bisa diikuti secara langsung di www.fmb9.go.id, FMB9ID_ (Twitter), FMB9.ID (Instagram), FMB9.ID (Facebook), dan FMB9ID_IKP (Youtube). (FMB9/TRI/VR/TR)

Rilis 3

Demam Pasca Imunisasi, Reaksi Wajar

Jakarta, FMB9 – Persentase jumlah anak yang mengalami demam tinggi pasca mendapatkan imunisasi hanya mencapai satu persen. Sedangkan, anak lainnya yang mendapatkan asupan imunisasi, tidak mengalaminya.

“Anak yang diimunisasi sakit demam itu jumlahnya hanya satu persen,” ujar Ketua Bidang Humas dan Kesejahteraan Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia Hartono Gunardi dalam diskusi Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) bertajuk “Vaksin: Melindungi Diri, Melindungi Negeri” yang diselenggarakan pada Media Center KPCPEN di Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Kamis (1/10/2020).

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh organisasinya, membuktikan bahwa dari 100 anak yang diberikan imunisasi hanya satu orang yang mengalami demam tinggi. Lalu, 25 anak lainnya hanya mengalami kondisi badan yang cukup hangat saja, sedangkan sisanya tidak mengalami gelaja efek samping apapun setelahnya.

“Yang anget-anget hanya 25 anak, ini jumlahnya sangat kecil dan anak yang mengalami demam tinggi satu orang,” imbuhnya.

Ia mengakui, efek samping yang ditimbulkan oleh imunisasi memang terkadang membuat reaksi tubuh anak menjadi lebih hangat dibandingkan biasanya. Namun, itu reaksi yang wajar yang seiring dengan waktu akan menghilang dalam hitungan jam maupun hari tergantung dengan kondisi tubuh anak.

Efek samping dari imunisasi secara umumnya adalah anak rewel, kehilangan nafsu makan, berasa lemas, pegel dan lain-lain. Sifatnya itu mayoritas hanya berdampak ringan dan pendek secara waktu.

“Efek sampingnya sangat ringan dan bersifat sementara, dapat hilang dengan pengobatan yang sederhana,” katanya.

Sedikit merasakan hal yang tidak nyaman akibat efek samping pasca imunisasi, lebih baik daripada dampak bahaya lainnya yang ditimbulkan disebabkan tidak mendapatkan asupan imunisasi. Rasa sakit yang mendalam bahkan resiko anak kehilangan nyawa akan sangat tinggi ketika tidak tidak mendapatkan imunisasi berkala secara rutin.

“Perlindungan dari imunisasi tidak memberikan perlindungan 100 persen, tetapi penyakit yang ditimbulkan oleh penyakit tidak terlalu parah atau cenderung ringan,” katanya.

Ia mengimbau, kepada masyarakat jangan takut terhadap imunisasi yang dilakukan oleh pemerintah karena tidak akan membuat dampak negatif kepada sang anak. Justru dengan melakukan imunisasi secara berkala maka anak dapat terhindar dari potensi penyakit berbahaya yang senantiasa mengintai setiap saat.

“Jadi jangan takut melakukan imunisasi, ibarat makan cabe sakitnya hanya sebentar dan pendek,” pungkasnya.

Turut tampil sebagai narasumber Diskusi Media FMB9 Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan Vensya Sitohang dan Communication for Development Specialist UNICEF Indonesia Rizky Ika Syafitri.
Kegiatan FMB9 juga bisa diikuti secara langsung di www.fmb9.go.id, FMB9ID_ (Twitter), FMB9.ID (Instagram), FMB9.ID (Facebook), dan FMB9ID_IKP (Youtube). (FMB9/TRI/VR/TR)

Telkomsel Komitmen Dukung Aktivitas Pembelajaran di Tengah Pandemi

Jakarta, FMB9 – PT. Telkomsel mendukung penuh optimalisasi layanan telekomunikasi sebagai upaya menunjang kegiatan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Tujuannya, generasi penerus bangsa dapat melakukan kegiatan belajar di masa pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

“Kami menjaga api semangat belajar di tengah pandemi Covid-19 tetap terjaga,” ujar SVP Enterprise Telkomsel Dharma Simorangkir dalam diskusi Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) bertajuk “Subsidi Pulsa: Belajar Aman dan Tetap Terkoneksi dari Rumah” yang diselenggarakan melalui online, Selasa (29/9/2020).

Telkomsel mempersiapkan tiga hal utama dalam menunjang kegiatan upaya ini, pertama menjamin ketersediaan jaringan 4G dengan kualitas prima di seluruh pelosok tanah air. Melakukan langkah-langkah strategis dalam mempersiapkan jaringan yang optimal dengan instansi pemerintah terkait.

“Pembelajaran ini koneksi permintaan bandwith cukup besar sebaiknya dengan jaringan 4G. Maka kami melakukan optimasisasi dengan pihak terkait,” katanya.

Hal kedua adalah menyediakan kecukupan kapasitas jaringan yang mampu mengakomodir seluruh pemangku kepentingan sektor pendidikan untuk melakukan kegiatan pembelajaran jarak jauh dari rumah masing-masing. Sehingga, pihaknya akan mempersiapkan penyaluran jaringan kepadatan lalu lintas data sampai ke luar negeri.

“Potensi jumlah siswa yang diberiakn sangat besar sekali trafix akan sangat besar cukup kapaistas. Kami mempersiapkan kapsiatas jaringan domestik maupun internasional,” imbuhnya.

Ketiga, produk konektivitas digital dengan harga terjangkau. Artinya, harga diberikan kepada masyarakat lebih murah bagi masyarakat yang tidak menerima subsidi kouta data internet di masa pandemi saat ini. Ia menjamin, harga yang diberikan dibawah rata-rata komersial yang biasa ditetapkan oleh Telkomsel.

“Kami pastikan kuota data harganya terjangkau dibawah rata-rata komersial di publik. Ini adalah komitmen bersama operator bersama pemerintah,” tuturnya.

Selain itu, dalam pendistribusian subsidi kuota data internet bagi penerima bantuan tersebut. PT Telkomsel melakukan koordinasi secara intensif dengan pihak Kemendikbud terkait nomor yang akan diberikan bantuan. Bila, terdapat yang sudah tidak aktif maka akan langsung dikembalikan kepada Kemendikbud.

“Dalam distribusi kami melakukan koordinasi dengan Kemendikbud,” imbuhnya.

Ia berharap, dengan bantuan kuota data internet dapat membuat para generasi penerus bangsa tetap menjalankan aktivitas pembelajaran. Agar, kualitas sumber daya manusia (SDM) tetap dapat senantiasa terjaga di tengah pandemi Covid-19 yang tengah mendera bangsa ini.

“Kami berusaha membuat api belajar para generasi penerus bangsa tetap menyala dui tengah pandemi,” pungkasnya.

Turut tampil sebagai narasumber Diskusi Media FMB9 Plt. Kapusdatin Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Hasan Chabibie. Kegiatan FMB9 juga bisa diikuti secara langsung di www.fmb9.go.id, FMB9ID_ (Twitter), FMB9.ID (Instagram), FMB9.ID (Facebook), dan FMB9ID_IKP (Youtube). (FMB9/TRI/VR/TR)

Syarat Mendapatkan Bantuan Kuota Data Internet, Mudah

Jakarta, FMB9 – Syarat utama dalam mendapatkan bantuan kuota data internet dapat dipenuhi dengan mudah. Calon penerima bantuan adalah terdaftar dalam data pokok pendidikan (dapodik) serta memiliki nomor ponsel yang aktif.

“Syarat menerima bantuan dibuat semudah mungkin. Hal yang paling penting adalah terdaftar dalam aplikasi dapodik dan memiliki nomor aktif atas nama orang tua, anggota keluarga atau wali,” kata Plt. Kapusdatin Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Muhammad Hasan Chabibie dalam diskusi Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) bertajuk “Subsidi Pulsa: Belajar Aman dan Tetap Terkoneksi dari Rumah” yang diselenggarakan melalui zoom meeting pada Selasa (29/9/2020).

Meskipun syarat ditetapkan oleh Kemendikbud cukup mudah, pihaknya tetap akan melakukan serangkaian validasi. Tujuannya, kuota data internet yang diberikan dapat diterima langsung kepada peserta didik yang membutuhkan kuota data untuk melakukan kegiatan belajar daring.

“Kami lakukan pendataan secara valid, agar kuota data yang diberikan tepat sasaran,” tuturnya.

Terdapat empat mekanisme validasi data yang dilakukan oleh Kemendikbud, pertama pendataan nomor ponsel sesuai dengan aplikasi dapodik. Kedua, verifikasi nomor yang aktif milik calon penerima kuota data internet dalam satu instansi pendidikan. Ketiga, pimpinan satuan pendidikan menggungah surat pernyataan tanggung jawab mutlak (SPTJM). Terakhir, operator satuan pendidikan melakukan pemutakhiran nomor ponsel.

“Jangan sampai terjadi dalam satu nomor ponsel yang terdaftar dimiliki oleh lebih dari satu orang penerima,” Muhammad Hasan.

Rencananya, pemerintah akan memberikan bantuan kuota internet total kepada 60 juta penerima. Secara detail, bantuan kuota ini akan diberikan kepada 50.704.847 peserta didik, 3.424.176 pendidik dari berbagai jenjang, 5.156.850 mahasiswa di berbagai tingkatan, dan 257.217 dosen berbagai mata kuliah.

“Subsidi kuota internet selama empat bulan dari September hingga Desember sebesar Rp7,2 triliun,” katanya.
Terkait dengan penyaluran bantuan pada bulan ini, telah dilakukan dalam dua tahap. Tahap I, telah dilakukan pada periode 22-24 September. Dan tahap II, saat sedang disalurkan dari periode waktu 28-30 September. Pada bulan ini kuota berlaku selama 30 hari terhitung sejak diterima nomor aktif.

Bulan kedua, tahap I akan dilakukan pada periode 22-24 Oktober 2020 dan tahap II akan dilakukan pada 28-30 Oktober 2020. Pada bulan ini kuota berlaku selama 30 hari terhitung sejak diterima nomor aktif.

Bulan Ketiga dan Empat, Tahap I akan dilakukan periode 22-24 November 2020 dan tahap II dilakukan periode 28 sampai 30 November 2020.”Khusus bulan ketiga dan empat kuota berlaku selama 75 hari terhitung sejak diterima oleh nomor ponsel pendidik dan perserta didik,” pungkasnya.

Turut tampil sebagai narasumber Diskusi Media FMB9 SVP Enterprise Telkomsel Dharma Simorangkir. Kegiatan FMB9 juga bisa diikuti secara langsung di www.fmb9.go.id, FMB9ID_ (Twitter), FMB9.ID (Instagram), FMB9.ID (Facebook), dan FMB9ID_IKP (Youtube). (FMB9/TRI/VR/TR)

Kemendikbud Targetkan 27,3 Juta Penerima Bantuan Quota Internet Hingga September 2020

Jakarta, FMB9 – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menargetkan penyaluran bantuan kuota data internet pendidikan pada September 2020 mencapai 27,3 juta orang. Hal ini sebagai upaya mempercepat proses belajar mengajar secara daring, sehingga bisa terlaksana meskipun di tengah pandemic virus Covid-19.

“Target penerima bantuan kuota data internet oleh Kemendikbud mencapai 27,3 juta yang akan disalurkan di bulan September,” ujar Plt. Kapusdatin Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Hasan Chabibie dalam diskusi Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) bertajuk “Subsidi Pulsa: Belajar Aman dan Tetap Terkoneksi dari Rumah” yang diselenggarakan melalui online, Selasa (29/9/2020).

Menurut dia, bantuan ini diberikan kepada peserta didik, sehingga generasi penerus bangsa tidak kehilangan hak dalam memperoleh pendidikan di tengah pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Tujuannya, tetap membuat para peserta didik dapat melakukan kegiatan belajar meski secara jarak jauh.

“Jangan sampai kita kehilangan generasi, makanya kita mengikhtiarkan segala cara untuk membuat gerasi penerus bangsa untuk tetap bisa belajar,” katanya.

Secara mendetail, bantuan tersebut akan diberikan kepada mayoritas peserta didik Sekolah Dasar (SD) dengan target sebanyak 11.377.504 penerima bantuan. Terbanyak kedua, diberikan kepada peserta didik dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan target penerima sebanyak 5.323.548 penerima bantuan.

Ketiga, diberikan kepada peserta didik untuk murid Sekolah Menengah Atas (SMA) yang mencapai 3.124.361 orang. Empat, diberikan kepada peserta didik untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang mencapai 3.028.027 orang. Lima, diberikan kepada mahasisswa akademi dengan target penerima mencapai 2.005.781 orang. Enam, diberikan kepada profesi guru sebanyak 1.358.959 orang.

Tujuh, diberikan kepada anak dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang ditargetkan mencapai 846.360 peserta didik. Delapan, diberikan kepada 125.099 dosen. Sembilan, diberikan kepada sebanyak 60.281 mahasiswa vokasi di Indonesia. Selanjutnya, diberikan kepada murid dari tingkatan pendidikan Sekolah Luar Biasa (SLB) yang ditargetkan mencapai 29.050 orang. Terakhir, bantuan diberikan kepada peserta didik dari tingkatan pendidikan kesetaraan yang jumlahnya mencapai 26.525 orang.

“Seluruh tingkatan pendidikan mendapatkan bantuan kuota data internet, bahkan pengajarnya juga mendapatkan bantuan kuota,” katanya.

Jumlah yang diterima pun beragam, tercatat bantuan kuota data internet bagi peserta didik jenjang PAUD menerima bantuan kuota sebesar 20 Gigabyte (GB). Bagi jenjang pendidikan dasar dan menengah menerima bantuan sebesar 35 GB. Selanjutnya, pendidik jenjang PAUD, pendidikan dasar dan menengah mendapatkan jumlah kuota internet sebesar 42 GB.

Dari jumlah puluhan GB yang diberikan oleh pemerintah untuk bantuan kuota internet sebagian besar diperuntukan bagi kuota belajar. Artinya, data yang diberikan dipergunakan sesuai dengan aplikasi pembelajaran dan layanan video conference yang dgunakan sebagai medium belajar daring.

“Terakhir, bagi dosen dan mahasiswa akan mendapatkan bantuan kuota sebesar 50 GB,” imbuhnya.

Terkait dengan penyaluran bantuan pada bulan ini, telah dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama, telah dilakukan pada periode 22-24 September. Dan tahap dua, saat sedang disalurkan dari periode waktu 28-30 September.

“Kuota berlaku selama 30 hari terhitung sejak diterima oleh nomor ponsel pendidik dan peserta didik,” katanya.

Turut tampil sebagai narasumber Diskusi Media FMB9 adalah SVP Enterprise Telkomsel Dharma Simorangkir. Kegiatan FMB9 juga bisa diikuti secara langsung di www.fmb9.go.id, FMB9ID_ (Twitter), FMB9.ID (Instagram), FMB9.ID (Facebook), dan FMB9ID_IKP (Youtube). (FMB9/TRI/VR/TR)