Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menggelar peluncuran buku tentang almarhum Prof. Dr. Bahtiar Effendy MA., di kantor PP Muhammadiyah, Jakarta pada Senin (10 Februari 2020) dengan judul “Mengenang Sang Guru Politik”. Prof. Dr. M. Din Syamsudin, MA., memberikan kata pengantarnya dengan editornya, Ma’mun Murod Al-Barbasy dan David Krisna Alka. Peluncuran buku ini dimaksudkan untuk mengenang kepergian seorang ilmuwan politik dengan komitmen keislaman dan ke-Indonesiaan yang sangat kuat. Begitu menurut editor dan koleganya. Bahtiar Effendy (BE) wafat November tahun lalu (2019).

Sebagai wartawan sejak awal tahun 1990-an di Majalah Forum Keadilan dan Liputan 6 SCTV hingga 2007, saya memang sempat bersinggungan dan menyaksikan Bahtiar Effendy di dalam berbagai event seperti konferensi, seminar, diskusi, maupun membaca tulisan-tulisannya di berbatai media massa.

Bahtiar Effendy (BE) ini boleh dikatakan sebagai “Geng Ciputat” yang melahirkan kelompok intelektual dari IAIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Jakarta, yang sekarang menjadi UIN Syarif Hidayatullah. BE ini seangkatan dengan Prof. Din Syamsudin. Selain Bahtiar Effendy, dari UIN Ciputat ini dikenal juga tokoh pemikir lainnya seperti Prof. Komaruddin Hidayat, Prof. Azyumardi Azra, Mulyadi Kartanegara Ph.D, belakangan yang lebih muda seperti Saiful Mujani Ph.D.

Di kalangan rekan-rekannya, BE termasuk apa yang disebut Mu-NU (Muhammadiyah Nahdhatul Ulama) karena ayahnya adalah salah satu tokoh NU di Ambarawa, Jawa Tengah, sementara BE sendiri adalah salah satu pengurus “Muhammadiyah yang cukup fanatik”, sempat menjadi salah satu Ketua PP Muhammadiyah. Prof. Din Syamsudin menyebutnya sebagai peyandang semangat bermuhammadiyah yang kental, bahkan sampai ke maqom “zealot”. Artinya kalau ada yang mengusik atau mengganggu Muhammadiyah, maka BE yang termasuk terdepan membela dan “menyerang” si pengusik tersebut dengan sengit. BE termasuk salah satu santri yang sempat mencicipi program pertukaran pelajar AFS di Amerika Serikat sebelum melanjutkan kuliah di IAIN Ciputat. Lalu BE lanjutkan pendidikannya ke Ohio University at Athens, Amerika Serikat dengan beasiswa dari The Asia Fondation. BE memperoleh gelar doktor ilmu politik dengan pusat perhatian politik Islam di Indonesia dari Ohio State University (Columbus), Amerika Serikat.

Saya sendiri belum membaca tuntas disertasinya yang berjudul “Islam and The State: The Transformation of Islamic Political Ideas and Practices in Indonesia” belakangan sudah dibukukan menjadi “Islam dan Negara: Transformasi Gagasan dan Praktik Politik Islam di Indonesia”. Tapi dari sekilas yang saya baca, BE mengulas soal mitos Politik Islam dan masa depan Islam Politik. BE menyitirnya sebagai apa yang disebut “politik ketakutan” terkait dengan apa yang diakibatkan oleh Islam Politik. Salah satu kesimpulannya; kaum muslim Indonesia ditakdirkan memiliki aspirasi politik yang berbeda-beda dan terkadang saling bertentangan. Sejauh mereka beraneka-ragam dan tidak mampu mengartikulasikan dan mengekspresikan ide tentang Islam Politik dari sudut kepentingan publik, maka partai-partai politik Islam akan sangat sulit untuk menjadi kekuatan dominan dan signifikan dalam kancah perpolitikan di Indonesia. Termasuk, bagaimana mencapai titik temu antara aspirasi mayoritas muslim dengan negara.

Hampir semua para calon doktor yang mengkaji politik Islam di Indonesia atau pemerhati maupun penulis politik Islam Indonesia, biasanya mengambil disertasi BE sebagai rujukan pentingnya. Buku BE lainnya adalah “Merambah Jalan Baru Islam: Rekonstruksi Pemikiran Islam Indonesia Masa Orde Baru” yang ditulisnya bersama Fachry Ali.

Sebagai wartawan saat itu yang berkali-kali bertemu dan kadang mewawancarai tokoh-tokoh intelektual Islam mulai antara lain dari Nurcholis Madjid, Gus Dur, Dawam Rahardjo, Djohan Effendi (Menteri Sekretaris Negara era pemerintahan Gus Dur), Aswab Mahasin, Din Syamsudin, Azyumardi Azra, Fachry Ali, Komaruddin Hidayat, maka BE menurut saya kurang dalam melontarkan pemikirannya secara terbuka ke publik melalui wawancara media. BE lebih intens menulis pemikirannya dalam berbagai jurnal dan media massa. Atau lebih terbuka melontarkan pemikirannya bila bicara dalam diskusi-diskusi terbatas.

BE menyoroti Konsep politik Islam yang “absolutely” dan “konfrontatif” pada masa awal perjalangan republik ini, kemudian pada ujung masa Orde Baru, ada jalan tengah. Bahwa Indonesia bukan negara agama atau negara sekuler. Tapi yang penting bagaimana peran dan substansi politik Islam masuk dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tapi kini tampaknya ada muncul kembali upaya gerakan ke konsep politik Islam “absolutely” dan “konfrontatif” yang lama itu seperti munculnya “khilafah”. Padahal sepenangkapan saya, BE lebih condong pada pemikiran politik Islam yang memanusiakan manusia. Menjaga harmonisasi.

Saya sempat mendengar ketika salah satu koleganya bercerita menanyakan apakah BE bersedia dicalonkan jadi presiden, terlepas apakah itu pertanyaan serius atau bercanda. Apa jawab BE. Katanya: “Saya tidak mau dicalonkan kalau saya tidak pantas untuk jabatan itu, jabatan apa pun itu”. Saya melihatnya itu suatu pelajaran kalau belum pantas menduduki jabatan itu, maka hendaklah tahu diri, karena kalau dipaksakan akan merusak bangsa dan negara ini. Ini mungkin bisa menjadi pelajaran bersama ketika tahun ini dan tahun mendatang akan marak pilkada serentak. Termasuk untuk jabatan publik lainnya.

Dalam gelombang arus pragmatisme yang melanda bangsa ini, BE termasuk sedikit intelektual yang tampaknya tidak mudah terpengaruh. Artinya tetap berupaya netral dan objektif. Meskipun dalam beberapa kesempatan, saya memandang BE menunjukkan keberpihakannya.

Meskipun banyak gagasannya belum dapat terealisasi atau diterima, tapi ada beberapa idenya akhirnya bisa digulirkan. Yang sepertinya belum diterima adalah gagasannya, misalnya, soal pendirian amal usaha politik di lingkungan Muhammadiyah, yaitu adanya partai politik yang diselenggarakan khusus oleh organisasi dan warga Muhammadiyah. Ada pun ide besarnya, adalah pendirian lembaga yang kemudian diberi nama Universitas Islam Internasional Indonesia dan Baitul Muslim sebagai organ atau salah satu badan dari sayap Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Untuk Baitul Muslimin itu, BE mendorong gagasan itu melalui Prof. Din Syamsudin dengan mengutip ide dari Bung Karno dalam bukunya “Di Bawah Bendera Revolusi”. Di situ Bung Karno menulis bahwa Islam akan diperjuangkan melalui kemerdekaan Indonesia yang adalah Indonesia Berkemajuan. Mungkin Muhammadiyah sekarang mengambil slogan Islam Berkemajuan dari gagasan Bung Karno itu.

Secara keseluruhan, buku Bahtiar Effendy lebih menuangkan testimoni dari kolega, sahabat, murid, maupun tokoh-tokoh yang pernah berinteraksi dengan BE. Upaya Tim PP Muhammadiyah Ini memang patut diapresiasi yang sebelumnya sudah juga pernah menerbitkan untuk almarhum KH Hasym Muzadi dengan judul: “Takziah Muhammadiyah untuk KH. A. Hasym Muzadi”. Kabarnya, tim ini juga sedang mempersiapkan buku untuk almarhum “Gus Sholahuddin Wahid”.

Meskipun merupakan kumpulan testimoni, sekilas saya baca, buku tentang BE ini, semacam mengambil hikmah dari perjalanan hidup seorang BE untuk generasi selanjutnya. Ada baiknya mungkin buku tentang BE ini diterjemahkan dalam bahasa global, sehingga dalam era digital ini, para pembaca luar negeri bisa mengaksesnya.