MUI Temukan Ketidaklaziman dalam Pengajuan RUU BPIP

Rilis MUI Pusat 27 Agustus 2020

JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menemukan ketidaklaziman dalam Pengajuan Rancangan Undang-Undang Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dari pemerintah kepada DPR. Jika RUU BPIP yang diusulkan bukan merupakan pengganti RUU HIP, pemerintah harus mengikuti prosedur yang berlaku.

Melalui edaran Pandangan dan Sikap MUI tentang RUU HIP dan BPIP bernomor Kep-1571/DP MUI/VIII/2020, Buya Anwar Abbas menyampaikan ketidaklaziman tersebut terkait dengan status RUU BPIP yang diajukan oleh pemerintah dan setelah proses pengajuan RUU HIP atas inisiatif DPR.

Seperti diberitakan, sejak tanggal 16 Juli 2020, polemik RUU HIP memasuki babak baru. Menko Polhukam Mahfud MD pada tanggal itu menyerahkan draft RUU BPIP kepada Ketua DPR RI di Kantor DPR RI, Jakarta. Belum terpublikasikanya Surat Presiden atas RUU HIP sampai saat ini, membuat status draft RUU BPIP itu rancu, apakah RUU BPIP itu usulan baru atau lampiran Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) Surat Presiden terhadap RUU HIP.

“Semestinya, pengajuannya dilakukan dalam Rapat Kerja antara DPR dan Pemerintah. Sementara jika Presiden mengajukan RUU BPIP sebagai usulan baru, maka wajib melakukan penarikan RUU HIP dari proses pembahasan, mencabutnya dari Program Legislasi Nasional (Prolegnas) dan memasukkan RUU BPIP itu ke dalam perubahan Prolegnas,” ujar Sekjen MUI itu kepada mui.or.id, Rabu (26/08).

Buya Anwar menambahkan, ketika Pemerintah dan DPR menjadikan RUU BPIP sebagai RUU di luar Prolegnas, maka wajib merujuk dan melaksanakan ketentuan Pasal 23 ayat (2) UU Nomor 12 Tahun 2011 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 15 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012.

Bunyi pasal tersebut; Dalam keaadaan tertentu, DPR atau Presiden dapat mengajukan RUU di luar Prolegnas mencakup: a) untuk mengatasi keadaan luar biasa, keadaan konflik, atau bencana alam: dan b). Untuk megatasi keadaan tertentu lainnya yang memastikan urgensi nasional atau suatu RUU yang dapat disetujui bersama oleh alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislatif dan Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintah di bidang hukum.

“Jika RUU BPIP yang diusulkan Pemerintah bukan merupakan pengganti RUU HIP namun sesuatu yang baru, harus mengikuti prosedur pembentukan RUU sebagai usul Pemerintah yang wajib berdasarkan pada prosedur dan mekanisme pembentukan peraturan perundang-undangan sebagai ditentukan UU Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan sebagaimana diubah dengan UU Nomor 15 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas UU Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Perautran Perundang-undangan serta Peraturan Tata Tertib DPR RI agar tidak cacat hukum,” terang Buya Anwar.

Karena itu, untuk menjamin kepastian dan akuntabilitas pembentukan peraturan perundang-undangan, serta partisipasi aktif masyarakat, dia meminta pemerintah menjelaskan status RUU BPIP itu.

“Sebagaimana diatur dalam Pasal 96 UU Nomor 12 Tahun 2011, maka wajib adanya kejelasan informasi dari Pemerintah yang sudah mengirimkan Surpres ke DPR apakah RUU BPIP sebagai DIM untuk membahas RUU HIP atau RUU usul baru Presiden,” tegasnya. (Komisi Infokom MUI Pusat)

Selagi Masih Hidup

Perjuangan mempunyai banyak cara dalam bentuk yang beragam. Ini bisa terjadi pada pemimpin mana saja, tapi saya mendapatkan gambaran langsung dan bagus itu pada Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPP LDII), almarhum Prof. Dr. Ir. KH. Abdullah Syam M.Sc., dan Ketua DPP LDII, almarhum Ir. H. Prasetyo Sunaryo MT. Pak Ketum demikian sapaan akrab kami pada beliau meninggal pada 14 Juli 2020. Lalu 17 hari kemudian pada tanggal 31 Juli 2020, menyusul Pak Pras, panggilan akrab kami pada beliau. Suatu kehilangan yang sangat berarti bagi organisasi.

Dalam beberapa tahun terakhir, Pak Ketum cukup sering mengajak saya untuk berbagai kegiatan organisasi, mulai dari konsolidasi organisasi ke berbagai daerah, menghadiri undangan dari eksternal, maupun membangun komunikasi dan koordinasi dengan lingkungan dalam dan luar organisasi. Belum lagi rapat-rapat rutin dalam organisasi.

Karena itu, dalam kesendirian, teringat kembali percakapan-percakapan dengan Pak Ketum. Salah satunya perhatian beliau pada penguatan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) terutama pada pengurus organisasi. Harapannya pengurus organisasi berkemampuan untuk menjalankan roda organisasi, mengimplementasikan program-program organisasi, melakukan tindakan-tindakan yang mengangkat marwah dan martabat organisasi, dan mampu menyelesasikan masalah-masalah yang terkait organisasi. Tambahan lagi, pengurus organisasi bisa menjadi teladan, syukur mampu melakukan sesuatu yang sangat berarti bagi organisasi.

Hampir di mana-mana berada, Pak Ketum selalu berupaya memotivasi, mengarahkan, dan menasehati para pengurus organisasi untuk terus mengibarkan panji organisasi setinggi-tingginya. Apakah dengan kontribusi pemikiran maupun perbuatan, dengan prestasi, dengan inisiatif untuk lebih mendorong peran positif organisasi, bahkan sampai dengan semangat membela NKRI dengan harga mati. Secara lebih hakiki, Pak Ketum berupaya mewujudkan visi dan misi organisasi dengan segala kemampuan yang ada pada diri beliau.

Dalam berbagai kesempatan, saya melihat Pak Ketum mengedepankan pendekatan budi luhur, akhlaqul karimah, sebagai refleksi, cermin, bahwa warga LDII adalah warga yang memiliki 6 thabiat luhur (jujur, amanah, kerja keras dan hemat, rukun, kompak, dan bisa bekerja sama dengan baik). Setiap tindakan maupun program harus dipertimbangkan dampaknya terhadap individu maupun lingkungan sekitarnya. Pengurus organisasi harus “siap” memberikan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk mengembangkan dan memajukan organisasi.

Latar belakang pendidikan pesantren di masa muda, membantu Pak Ketum dalam bersosialisasi dengan para ulama dan zuama dari berbagai kalangan maupun ormas Islam lainnya. Dalam suatu rapat pleno Dewan Pertimbangan MUI Pusat (Wantim MUI), saya dan Pak Ketum hadir, di mana beliau sebagai anggotanya, Pak Ketum diminta Prof. Dr. Din Syamsudin, Ketua Wantim MUI, untuk membacakan doa sebagai penutup rapat pleno tersebut. Pak Ketum dengan fasih dan lancar memimpin doa sehingga mendapat apresiasi dari Prof. Din Syamsudin. Termasuk substansi doanya. Boleh dikatakan Pak Ketum menggambarkan sosok ulama, guru, akademisi, dan tentu sebagai pemimpin organisasi.

Sekarang saya mau kenang sekilas Pak Pras. Bagi kami, Pak Pras seperti kamus berjalan. Hampir semua peristiwa penting organisasi sejak LDII berdiri, ada keterlibatan beliau. Cukup intens saya berhubungan dengan beliau pada beberapa tahun terakhir ini, baik berkenaan dengan urusan organisasi maupun kegiatan di luar organisasi, seperti beliau mengajak saya dalam pengelolaan Lembaga Bantuan Teknologi (LBT), yang dibangun oleh beliau.

Pengalaman beliau sebagai aktivis mahasiswa (sebagai Ketua Dewan Mahasiswa Institut Teknologi Bandung pada tahun 1974-1975), teknokrat, dan birokrat yang cukup panjang, membuat almarhum sebagai sosok yang terbuka, penuh dengan ide dan gagasan yang sangat bernilai bagi organisasi untuk pengembangan dan kemajuan organisasi. Salah satunya, Pak Pras berhasil membangun citra dan reputasi organisasi sehingga menghapus kesan LDII sebagai ormas Islam yang eksklusif. Beliau mendorong LDII sebagaimana ormas Islam lainnya untuk terus berkontribusi kepada bangsa.

Sebagai intelektual cum aktivis, Pak Pras banyak membuka wawasan agar pengurus organisasi mempersiapkan diri menghadapi masa depan yang berubah sangat cepat dan tantangan yang mungkin tidak pernah dihadapi para pendahulu organisasi. Beliau mengamati betul-betul bagaimana perubahan itu terjadi, yang popular disebut sebagai VUCA yaitu, Volatility (bergejolak), Uncertainty (tidakpasti), Complexity (kompleks), Ambiguity (tidak jelas). Karena itu beliau mendorong para pengurus organisasi untuk terus belajar. Dalam usia lanjut, beliau mengambil program doktor (S3). “Ini untuk memotivasi dan memberi contoh pada generasi muda,” ujar beliau. Bagi beliau, pengurus organisasi perlu dengan rendah hati bersedia mempelajari praktik-praktik baru, seperti melek teknologi digital.

Pelajaran apa yang bisa diambil ? Setidaknya dari Pak Ketum dan Pak Pras, adalah semangat berjuang terus-menerus tiada henti untuk mengembangkan dan memajukan organisasi. Selagi masih hidup, sekali lagi, selagi masih hidup, beliau-beliau telah mendedikasikan waktu, tenaga, pikiran, bahkan harta-bendanya dalam garis perjuangan organisasi.

Tinggal insya Allah, kami, generasi penerus, melanjutkan tiap langkah perjuangan beliau-beliau. Kita memang tidak lagi mendengar aba-aba, nasehat, pitutur, arahan, beliau-beliau, tetapi jejak-langkah beliau-beliau akan terpatri dalam sanubari kami.

Selamat jalan Pak Ketum dan Pak Pras. Nam sholihan. Semoga semua amal-ibadahnya diterima Allah SWT, diampuni segala dosanya, dan mendapatkan sorga Firdaus disisi-Nya. Aamiiin.

Klub Sepeda MGS Bekasi Selatan Peringati Hari Kemerdekaan

Setiap tahun, momen Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (HUT RI) lazim dirayakan oleh berbagai kelompok masyarakat. Klub sepeda MGS Bekasi Selatan, Jawab Barat, pada HUT RI ke-75 ini, menggelar acara parade sepeda sebagai salah satu acara memperingati hari kemerdekaan dengan menggunakan kostum merah putih. Klub sepeda MGS yang berbasis di masjid-masjid ini berkeliling Kota Bekasi dan singgah di beberapa masjid untuk mempererat tali silaturahim sekaligus bersama-sama penghuni yang disinggahi memperingai HUT RI ke-75.

Menurut Budi, salah satu peserta parade sepeda MGS, kegiatan parade sepeda berkeliling Kota Bekasi ini untuk menyemarakkan peringatan hari kemerdekaan RI. “Kami dan teman-teman di MGS sepakat pas pada hari kemerdekaan ini akan melakukan parade sepeda, selain berolah raga, juga acara ditutup dengan menikmati makanan ringan bersama. Acara ini semakin mempererat persaudaraan diantara kami. Ini sebagai tanda syukur kami diberi kesempatan menikmati masa kemerdekaan ini,” ujar Budi.

Rencananya, masih dalam bulan Agustus ini, setelah acara parade keliling Kota Bekasi, Klub sepeda MGS Bekasi akan melakukan tur sepeda menjelajahi beberapa objek wisata di wilayah Jawa Barat. “Sebelumnya, melalui berbagai kunjungan kami ke berbagai tempat dan wilayah, tentu dengan sepeda, semakin kami merasakan syukur betapa kita diberi tanah air yang indah dan kaya akan adat-istiadat dan budaya. Momen hari kemerdekaan ini bisa menjadi salah satu cara kami untuk mengenang kembali para pahlawan bangsa, yang telah memperjuangkan kemerdekaan, dan kami sebagai generasi penerusnya berharap bisa mengisi kemerdekaan ini sesuai dengan kemampuan kami masing-masing,” pungkas Budi.

Rais Aam PBNU: Ibarat Desainer, MUI Harus Merajut Benang Perbedaan Menjadi Pakaian Indah

Rilis Pers Milad ke-45
Jum’at, 7 Agustus 2020

JAKARTA — Sejak awal berdiri sampai usianya 45 tahun kini, MUI kerap menasbihkan diri sebagai tenda besar umat Islam. Di dalamnya, ada perwakilan berbagai ormas Islam di Indonesia yang berkumpul dalam satu atap besar. Sebagai tenda besar umat Islam, MUI di usianya yang ke-45 ini harus semakin bermanfaat bagi umat dan bangsa. Itulah yang disampaikan Rais Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar.

Dia ingin, MUI terus istiqomah mengemban peran sebagai tenda besar ini. Perbedaan-perbedaan antra ormas Islam satu dengan yang lainnya semestinya bisa dijembatani oleh MUI. Ibarat benang-benang yang berupa warna, tugas MUI menjahit benang-benang itu menjadi pakaian yang enak dipakai dan nyaman dipandang.

“MUI diharapkan terus istiqomah memerankan fungsi dalam menjahit perbedaan yang ada menjadi satu model pakaian yang satu, yang enak dipakai, dan elok dipandang. Pengurus MUI ibarat desainer handal yang meracik warna-warni kain menjadi satu kesatuan dalam satu tema bersatu dalam perbedaan, mencari titik temu atas perbedaan yang bisa disatukan, dan mewujudkan sikap saling memahami atas perbedaan yang tak mesti harus disatukan,” katanya.

Sebagai wadah ulama, zuama, dan cendekiawan Muslim, Kiai Miftah menilai MUI memiliki peran sangat penting. Utamanya dalam menjalankan perannya sebagai melting pot, titik temu, rumah besar Umat Islam yang terdiri dari banyak kamar namun disatukan dengan dinding ukhuwah Islamiyah. Menurutnya, MUI selama ini telah menjalankan peran sebagai majlis ini dengan baik.

“Komitmen ukhuwwah Islamiyyah inilah yang menjadi titik temu dalam warna warni organisasi ke-Islaman di Indonesia. Dan saya melihat MUI telah menjalankan fungsi ini secara sangat baik. MUI telah memfungsikan dirinya sebagai “majlis”, sebagai tempat duduk, di dalamnya berhimpun berbagai ormas Islam yang berbeda-beda, untuk meneguhkan khidmah persatuan umat dan bangsa,” ungkapnya.

Kiai Miftah mencermati, ada tiga kondisi perbedaan di dalam umat Islam yang itu harus dipahami sehingga tetap bersatu di bawah ukhuwah Islamiah. Perbedaan itu, ujar dia, muncul karena perbedaan tafsir terhadap suatu masalah, yang masih mungkin disatukan. Pada kondisi seperti ini, maka upaya menyatukan menjadi suatu hal yang amat mulia sesuai dengan kaedah “al-khuruj minal khilaf mustahabb”.

Sedangkan perbedaan kedua berdasar pada ijtihadi dengan argumen shahih pada wilayah majalul ikhtilaf. Perbedaan di titik ini tidak mungkin disatukan. Maka perlu dibangun komitmen saling pengertian atau saling memahami untuk mewujudkan harmoni di tengah perbedaan. Sementara perbedaan ketiga adalah perbedaan yang harus diluruskan karena sudah masuk kategori menyimpang.

“Ketiga, perbedaan terhadap masalah keagamaan yang masuk kategori ma’lum mind din bi al-dlarurah, seperti tentang otentisitas al-Quran, soal kewajiban shalat, maka pada hakekatnya, ini bukan wilayah perbedaan yang bisa dimaklumi,” katanya.

“Dalam Islam, perbedaan pendapat yang ditoleransi adalah perbedaan pendapat yang dengan dlawabith dan hudud, bukan waton suloyo atau asal beda tanpa kaedah yang dibenarkan.Yang ketiga ini adalah penyimpangan yang harus diluruskan,” imbuhnya.

Pemahaman terhadap jenis-jenis perbedaan itu penting sehingga bijak dalam merespon sebuah perbedaan. Dalam kondisi Pandemi Covid-19 seperti sekarang, menurut Kiai Miftah, salah satu caranya adalah komitmen bersama melalui persatuan. Bersatu dalam bingkai ukhuwah di tengah perbedaan, bukan dengan bercerai berai dan saling menyalahkan.

Tugas MUI Memperbaiki Akhlak

Sebagai organisasi keulamaan, MUI mengemban risalah kenabian. Risalah kenabian paling utama adalah risalah keutamaan akhlak. Nabi sendiri diutus untuk memperbaiki akhlak umatnya. Sesuai hadis nabi Muhammad SAW, innama buitstu li utammima makarimal akhlak.

“Untuk itu, MUI harus memantabkan diri sebagai penjaga akhlak umat dan bangsa, menjadi teladan makarimal akhlak oleh ulama untuk kemaslahatan bangsa. Akhlak ulama akan menjadi faktor munculnya keberkahan bagi umat dan bangsa, terutama saat berada dalam krisis,” ujarnya.

Bentuk makarimal akhlak yang ingin dicapai pada Milad ke-45 adalah terus menerus istiqomah mendakwahkan nilai-nilai Islam yang menyejukkan dan menyatukan. Bukan sebaliknya yaitu membelah dan menegasikan perbedaan. Ulama juga harus mengedepankan prinsip tasamuh (toleransi) dalam hubungan insaniyah, tafahum (saling pengertian) dan mengedepankan maslahah ammah (kepentingan umum) atas dasar ukhuwah.

“Ulama juga menjauhi sikap dan perilaku ananiyyah (egoisme) dan ‘ashabiyyah hizbiyyah (fanatisme kelompok), yang bisa mengakibatkan ‘adawah (saling permusuhan), tanazu’ (pertentangan), dan syiqaq (perpecahan) di antara kita,” katanya.

Kiai Miftah menilai, hal-hal yang harus dihindari itu merupakan sebab pasang surut ukhuwah Islamiah. Sikap yang cenderung mengedepankan ananiyyah dan ashabiyyah baik ashabiyyah hizbiyah maupun ashabiyyah jam’iyyah itu merusak konsistensi ukhuwah.

“Untuk itulah, perlu ada komitmen untuk terus memupuk ukhuwah Islamiyah kita di tengah realitas perbedaan yang ada. MUI tanpa komitmen menghargai perbedaan dengan semangat ukhuwah islamiyah dan al tafahum akan kehilangan makna sebagai tenda besar,” pungkasnya.

Selain merajut kesatuan dalam Islam, MUI diminta memainkan peran strategis lebih lagi. MUI, ungkap Kiai Miftah, sudah selayaknya menjadi jangkar utama dalam mewujudkan ukhuwah wathaniyyah, komitmen persaudaraan kebangsaan untuk mewujudkan persatuan bangsa. Menurutnya, itu adalah modal utama dalam meuwjudkan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

“Fungsi kenabian atau profesik yang disandang oleh MUI bukan hanya untuk umat Islam semata, tetapi fungsi itu harus menjelma menjadi rahmat bagi semua, rahmatan lil aalamin. Bukan sekedar untuk internal umat, tetapi juga untuk persaudaraan kebangsaan, dan persaudaraan kemanusiaan. Ini adalah modal utama dan sumbangsih keulamaan yang dinanti serta terus diharap, serta sangat vital dan strategis guna merealisasikan tujuan berbangsa dan bernegara kita, baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur,” katanya.

“Saya berharap keberaaan dan keberperanan MUI sebagai tenda besar umat Islam semakin bermanfaat bagi umat dan bangsa; menjadi penyejuk saat udara panas, menjadi api penghangat saat cuaca dingin; menjadi pelita saat gelap, menjadi teman sejati yang selalu hadir saat suka dan duka; menjadi pemersatu di tengah perbedaan; istiqamah membimbing umat dan menjadi sahabat bagi pejabat dalam menjalankan tugas mewujudkan maslahat; amanah dalam menjalankan tugas dakwah, seimbang dalam amar makruf dan nahi mungkar, terbingkai dalam dakwah penuh hikmah,” imbuhnya.

Komisi Infokom MUI

Ketum PP Muhammadiyah: Membangun Kebersamaan Harmoni Islam Wasathiyyah bersama MUI

Rilis Pers Milad MUI ke-45
Jum’at, 7 Agustus 2020

JAKARTA — Ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyyah Prof. Dr. KH. Haedar Nashir, M.Si., berharap agar Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan pandangan Islam Wasathiyyah dapat menjadi perekat umat dan bangsa.

“Merekatkan ukhuwah dalam berbagai aspek dan golongan serta menjadi uswah hasanah di dalam memajukan dan membangun kebersamaan di republik tercinta ini,” kata prof Haedar dalam sambutannya di acara Milad MUI ke-45 yg diadakan secara virtual, Jumat (07/08) malam.

Indonesia sebagai negara dengan masyarakat muslim terbesar di Dunia haruslah memiliki berbagai macam keunggulan pada setiap aspek kehidupan dengan tetap berbasis akhlaq mulia dan kecerdasaan keilmuan.

Menurutnya, kuantitas mayoritas harus tetap diimbangi dengan kualitas, terutama penguasaan teknologi dan peran kemanusiaan dalam kehidupan umat dan bangsa.

“Tidak mungkin kita umat Muslim sebagai kekuatan mayoritas dapat berperan strategis kalau kita masih tertinggal dalam setiap bidang kehidupan,” ungkap dia.

Prof. Haidar juga menyampaikan harapan dan doa terbesarnya kepada MUI untuk memajukan Indonesia, mencerahkan umat, dan membawa pesan rahmatan lil alamin bagi kemanusiaan alam semesta

“Mudah-mudahan seluruh ulama, zuama dan cendikiawan Muslim yg berhimpun di MUI tetap menjaga dan menjadi kekuatan yang menjunjung tinggi marwah Islam untuk Rahmatan Lil Alamin,” pungkasnya.

Komisi Infokom MUI